Cari disini!!

Kamis, 26 Agustus 2010

HADIAH DARI TANAH RENCONG

rai,,bsk klo lo balik k skul jgn lpa bawa oleh2 dr aceh y,,biar qt pada ga katro' gitu lho sma aceh

Itu adalah sms yg kukirim ke temanku yang berasal dari aceh, namanya adalah Rainda. Orangnya? Yah gimana sih modelan muka Aceh asli, tentu saja yang paling menonjol adalah hidung bangir khas Acehnya. Nah, sms ini kukirim pas liburan kenaikan kelas kemarin kawan-kawan, aslinya sih aku berharap Rainda bawa makanan apa gitu dari Aceh atau mungkin kopi Ulee Kareng yang sedap. Itung-itung lumayan lah buat anak sekolah berasrama yang sering tertimpa paceklik dahsyat bernama BOKEK.

ok deh dya ntar gw bawain oleh2 khas aceh bwt sekelas

Yuppzz!! Aseeek banget neee. Aku udah ngayalin Rai bakalan bawain makanan enak dari negeri antah berantah itu. Hahahaha (ketawa gajebo) siasatku berhasil! Maka aku tunggu-tunggu kedatangan Rai dari Serambi Mekah untuk membawakan kuliner dahsyat dari negeri 1001 malamnya Indonesia itu.

Ternyata Rai datang telat 2 hari dari jadwal kepulangan ke sekolah, kawan-kawan. Maka dengan harap-harap cemas aku menunggu Rai membongkar koper POLO coklatnya. Tapi kayaknya nggak ada tanda-tanda Rai bawa makanan deh, apa Rai lupa ya?

Sebagai peminta yang baik, aku jelas nggak berani dong seenak udel aja nagih janjinya. Jadi aku menahan diri dari nagih oleh-oleh itu sebagai bukti kalau aku nggak celamitan. Sorenya, tiba-tiba saja Rai menyodorkan sebuah bros. Ia membagikan bros tersebut ke seisi kelas. Tapi ajaibnyaa kawan, bukan bros yang biasanya dipakai orang! Tapi bros berbentuk rencong! FYI rencong itu adalah senjata tradisional Aceh. Jujur aku seneng banget dapet special little gift ini. Soalnya, bentuknya imut tapi tegas dan yang paling aku sukaa, dengan memakai bros ini kita sama aja mempromosikan budaya Indonesia khususnya Aceh, tul nggak?

Kawan, kita sebagai anak muda Indonesia udah nggak jaman lagi jaim pake produk Indonesia ya nggak? Justru kita harus bangga dong sama hasil karya bangsa kita sendiri. Yakin deh, budaya Indonesia itu keren dan eco-friendly. Jadi, jangan hanya ngekor budaya luar aja (yang kadang-kadang nggak bener. Saatnya kita cinta dan peduli sama budaya Indonesia yang penuh warna dan buat Rai, thanks a lot buat kamu yang udah mempromosikan budaya daerahmu sama kita-kita. Lain kali jangan cuma bawain bros aja, bawain mie Aceh juga yaaa. Hahahahaha...

Gambar dari capcaibakar.blogspot.com nggak sempet moto brosku soalnya kamera jadoelku lagi kehabisan bahan bakar.

Selasa, 06 Juli 2010

HATI TULUS SEORANG PRAMUGARI

Sebagai seorang pramugari selain mengenakan pakaian cantik seperti yang
diketahui banyak orang, tentu saja ada kala nya saya menghadapi
saat-saat sulit. Pramugari harus kerja lembur, di dalam pesawat harus
mengantar makanan pada ratusan orang, menjual barang duty free,
melayani tamu, sibuk sekali sampai tidak bisa tersenyum. Dalam keadaan
demikian tetap harus mengingatkan diri bahwa pekerjaanku adalah
pelayanan, harus melayani banyak orang. Walaupun bagaimana memberitahu
diri kadang-kadang ada saat dimana saya kehabisan tenaga, tak bisa
bersabar dan tersenyum.

Sampai pada suatu hari teman baik saya bercerita tentang bagaimana dia
melayani seorang kakek tua yang pikun, saya baru bisa mengubah sikap
kerja saya.
Ini adalah sebuah penerbangan dari Taipei ke New York. Pada saat
pesawat terbang take off tak berapa lama, ada seorang kakek yang tidak
bisa mengontrol untuk buang air besar. Dan akhirnya memngeluarkannya
di tempat. Keluarga yang melihat hanya merasa jijik dan memaksa kakek
ini untuk membersihkan diri di toilet sendirian. Orang tua ini tampak
ragu sejenak, lalu kemudian seorang diri berjalan menuju toilet yang
berada di belakang.

Pada saat kakek itu keluar dari toilet, walau bagaimana pun ia
mengingat, ia tetap tidak mampu mengingat tempat duduknya sendiri.
Kakek yang berumur 80-an ini menjadi cemas, takut, dan menangis
seorang diri di teras toilet. Seorang pramugari datang membantu kakek
ini, bau yang teramat sangat memenuhi badan kakek. Ternyata kakek ini
tidak mengetahui dengan jelas letak tissue di dalam toilet tersebut
sehingga ia membersihkannya dengan menggunakan bajunya. Toilet yang
digunakannnya tadi jadi kotor dan berantakan sekali.

Setelah mengantarkan kakek kembali ke tempat duduknya. Para penumpang
di sekitarnya mulai mengeluh bau busuk yang berasal dari badannya.
Pramugari menanyakan kepada saudaranya apakah mereka masih memiliki
baju pengganti yang bisa digunakan oleh kakek ini. Saudaranya
mengatakan, semua pakaian ada di bagasi pesawat, jadi kakek ini tidak
memiliki baju pengganti. Dan saudaranya berkata, "Sekarangkan
penerbangan ini tidak terisi full, saya melihat ada beberapa baris
bagian belakang yang masih kosong, bawa saja kakek ini untuk duduk di
belakang." Pramugari ini hanya bisa mengikuti keinginan dari
saudaranya.dan membawa kakek ini ke barisan belakang.

Kemudian mengunci toilet yang telah digunakan oleh kakek ini agar
penumpang lain tidak salah masuk toilet. Akhirnya kakek ini duduk di
bangku belakang seorang diri, menundukan kepala dan tak henti-hentinya
menghapus air matanya yang terus mengalir.

Siapa sangka satu jam kemudian, kakek ini sudah berganti pakaian,
dengan badan yang bersih dan tersenyum riang kembali ke tempat
duduknya semula. Di depan mejanya tersaji seporsi makanan baru yang
masih hangat. Semua orang saling bertanya siapa gerangan yang
membantunya?
Ternyata teman baik saya ini yang mengorbankan waktu makan
malamnya. Dia menggunakan tissue dan lap basah pelan-pelan
membersihkan badan kakek ini sampai bersih.dan meminjam baju baru dari
co-pilot untuk mengganti baju kakek ini. Terlebih lagi, pramugari ini
membersihkan toilet yang telah digunakan oleh kakek ini hingga bersih
dan menyemprotkan parfumnya sendiri ke dalam toilet tersebut.

Rekan kerjanya mengatakan dia bodoh, harus begitu susah payah membantu
orang lain, bukankah sampai akhirnya tidak akan ada orang yang
mengenang dan berterimah kasih. Sudah lelah, namun tidak mendatangkan
keuntungan apa pun. Dia dengan tenang dan tegas menjawab, "Jam
penerbangan masih belasan jam, kalau saya menjadi orang tua tersebut,
saya pastilah sangat sedih, siapa yang berharap kalau awal dari
perjalanan ini bisa jadi begini.

Lagi pula tigapuluhan orang harus menggunakan satu toilet, kurang satu
toilet tentu sangat merepotkan. Saya bukan hanya membantu orang tua
itu tapi juga membantu penumpang yang lain."

Setelah mendengar cerita ini saya sangat menyesali sikap saya. Teman
baikku pernah menyampaikan kepada saya bahwa pekerjaan yang paling
membahagiakan adalah pekerjaan yang mengantarkan orang lain dari satu
tempat ke tempat lain dengan selamat. Sejak mendengar pengalaman indah
dari teman baik ini, saya baru menyadari bahwa pelayanan sungguh
merupakan sebuah berkah yang harus dihargai. Cara terbaik menghargai
berkah adalah dengan membagikan berkah ini kepada orang lain.
Pengalaman teman baikku ini telah mengubah sikapku dalam bertugas.

(Dikutip dari Airputih)

Jumat, 02 Juli 2010

GARUDA INDONESIA EXPERIENCE

Hai semuanya!Kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku yang kesekian kalinya naik Garuda Indonesia. Mungkin kalian bilang udah basi banget kali ya nyeritain pengalaman naik pesawat tapi yang aku mau ceritain di sini adalah gimana profesionalnya pelayanan Garuda walaupun pesawatnya jauh banget dari yang namanya fully-loaded.

Aku berdomisili di Solo karena alasan studi. Nah, setiap sekian bulan sekali aku pulang kampung ke Jakarta. Karena nyari cepatnya, akhirnya aku 'langganan' pu
lang naik pesawat yang perjalanannya ke Jakarta nggak pernah lebih dari satu jam aja. Dan di Solo hanya ada 3 maskapai yang menuju Jakarta: Garuda Indonesia,Lion Air dan Sriwijaya Air . Abisnya dari JOGLOSEMAR kota Solo merupakan yang paling jarang penumpang meskipun runway-nya panjang dan bandaranya caem banget tapi sayangnya penumpangnya gag tau pada lari kemana,,di Solo sehari Garuda 3x,Lion 2x,Sriwijaya 3x,AirAsia 1x dan Silk Air 1x.

Singkat cerita akhirnya aku masuk ke area AdiSoemarmo International Airport yang juga punya kantor pelayanan TKI yang lumayan gede pada pukul 09.30 pagi dan langsung menggeret koper hitam butut dari ke konter check-in yang berderet-deret panjang tapi super lenggang (halo Lion dan Sriwijaya konter check-in kalian di Jakarta kalah bagus sama yang di Solo yah)

Tiba di konter check-in punya Garuda aku langsung disapa sama Ground-Officer cantik berbaju coklat yang langsung memberi 'Garuda greetings' sambil menyapa ramah "Selamat datang, ada bagasi tidak?". Ternyata proses check-in nggak nyampe 5 menit dan sebelum aku pergi dia ngasih garuda greetings lagi sambil bilang "Terima kasih, selamat jalan" plus senyuman manis. PENTING: ucapan si ground officer tadi harus
kamu baca pake suara customer service bank yang lagi ngelayanin nasabah prioritas. Lalu aku langsung ke tempat bayar PJ2PU alias nama lain dari airport tax yang harganya Rp 20.000,00,- abis dari situ aku langsung naik ke atas. Ternyata di apron ada pesawat Silk Air yang lagi parkir, sayangnya aku lupa bawa kamera digital sich.

Berhubung pesawatku take-off masih jauh di awang-awang dan sang pesawat yang bersangkutan sendiri masih terbang nggak tau di mana akhirnya aku mutusin beli koran Solopos di salah satu duty free yang aslinya berbandrol Rp 2.500 tapi jadi berhaga 2x lipatnya hitung-hitung buat oleh-oleh di Jakarta berhubung duit di tangan gag cukup buat beli Mandarijn merek Orion yang harganya berlipat-lipat kayak kertas origami kalo beli di bandara . Sambil menunggu waktu akhirnya aku baca koran dengan gaya bapak-bapak sarapan dan sekali-kali ngelirik jam tangan kayak orang mau kencan pertama nunggu pacar.

Pelan-pelahan tapi perlahan bandara yang tadinya sepi kayak kuburan mulai ramai sama orang-orang. Dan Silk Air -yang udah kupelototin dari tadi di taksi- pergi meninggalkan Solo dan aku sempet nguping obrolannya ground officer Garuda yang ada di deketku kalo Garuda siang biasanya penumpangnya bisa cuma 60 orang hwaduh,,kalo gitu rugi dong? Soalnya kalo aku biasanya naik Garuda siang pesawatnya Boeing 737-300 yang menurut keterangan resmi di majalah Garuda dapat menampung 110 penumpang hwaa,, berarti cuma separo keiisi doang dong?

Lama-kelamaan ruang tunggu makin ramai diisi berbagai jenis manusia beraneka rupa. Setelah ruang tunggu ramai, 2 orang ground-officer Garuda berkeliling sambil bawa ht dan papan jalan serta alat tulis. Lalu si cewek ngampirin aku dan bilang "Garuda?" aku ngangguk trus dia bales "Bisa lihat boarding passnya dan kartu identitas?" habis itu langsung aja aku kasih dia boarding passku yang bercetak tulisan italic nan klasik: Economy Class beserta kartu identitas yang baru aja di-print paginya sama petugas TU sekolahku dengan kertas HVS 80 gram dan kutempel dengan double tip di atas 2 lembar karton yang kugunting dari buku tulis SIDU bekas tahun lalu. Dan dia ngrusuk-ngrusuk nggak tau nulis apa di papan jalan dan akhirnya mbalikin boarding passku dan kartu identitas hand made sambil senyum dan nyari penumpang lain lagi. Kalo dari sepenglihatanku sih yang banyakan orang yang megang boarding pass Sriwijaya Air daripada yang megang boarding pass Garuda.

Akhirnya pesawat Sriwijaya bernomor registrasi B 737-300 datang dari Jakarta dan langsung disambut oleh garbarata di terminal keberangkatan domestik. Kayaknya nggak begitu lama kemudian seorang ground officer Sriwijaya ber-blouse merah langsung bengok2 "Sriwijaya Air,Sriwijaya Air seat 14-(berapa gitu aku lupa masa' aku harus inget semua sih) silahkan boarding!" intermezzo bentar:Daripada dia bengok2 kayak gitu mending dia ngambil mic dan ngumumin pake gaya formal biar keliatannya profesional gitu lhooo... Tapi pengumuman boarding resmi dari bandara juga ada kok. Itu lho yang ada bunyinya teng teng teng teng "Perhatian-perhatian penumpang Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan S-J-2-1-3 tujuan Jakarta dipersilahkan memasuki pesawat melalui pintu 3,attention please....".

Dan bisa Anda semua tebak berbondong-bondong manusia berbagai usia dan rupa mengantre sambil menjinjing apa yang patut dijinjing berupa beraneka ragam barang bawaan dan juga tak lupa boarding pass masing-masing. Dan dengan sabar ground-officers nyobekin boarding pass2 punya mereka. Ehh...tapi kalau aku liat kayaknya penumpang Sriwijaya gak habis-habis deh. Coz waktu aku keluar dari ruang tunggu mau ke toilet masih ada se-RT penumpang Sriwijaya ngantri buat masuk ke ruang tunggu sebelum akhirnya ngantri lagi buat boarding. Pas aku di toilet si ground-officer yang tadi teriak-teriak masuk ke toilet sambil nanya ke orang-orang yang ada di toilet "Sriwijaya?" tapi orang yang bersangkutan jawab "Garuda".

Pas aku masuk ruang tunggu lagi ternyata antriannya gak berubah dan ground-officer SJ muter-muter buat nyari penumpang sambil bawa HT dan keliatannya sibuk banget. Oh ya ada yang lupa kuceritain sama kalian,kawan. Pas penumpang SJ yang dari Jakarta turun, pesawat GA datang!! Huff,,pingin deh aku sujud syukur gara-gara masa penantian panjang di ruang tunggu ini akan segera berakhir. Pesawat Garuda Indonesia yang bersangkutan tadinya kukira bakal parkir di sebelah SJ dan penumpangnya turun pake' tangga (habisnya di SOC cuma ada 2 garbarata 1 di domestik 1 di internasional). Ternyata si GA dengan gagahnya parkir di terminal internasional (haduh?) berhubung pesawat yang di pakai adalah Boeing 737-400 maka aku kira siang ini penumpangnya banyak. Tapi kenyataanya ketika penumpang Sriwijaya udah boarding semua sisa makhluk hidup di ruang tunggu nggak nyampe 50 orang yang secara otomatis mereka-mereka inilah calon teman seperjalananku.

Akhirnya Sriwijaya PK-CJF yang pake baju putih-merah-biru (bendera Belanda terbalik?) pull-out dan ujung-ujungnya ngeloyor terbang, meninggalkan aku di ruang tunggu (ya iyalah siapa elo kata Mpok Sri-eh Sri nama Jawa yaa lupa ^_^). Akhirnya aku cuma blongo sambil baca koran yang tadi kubeli (melas banget sih gue jadi orang) sambil ngitung-ngitung waktu, kapan yaa burung biru ini mau terbang?

Akhirnya terdengar pengumuman dari speaker (aku yakin kamu pasti suka suaranya si mbak ini, maniiis banget dech!) "Teng teng teng teng Perhatian-perhatian, penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan G-A-2-2-5 tujuan Jakarta dipersilahkan naik pesawat melalui pintu 1,attention please.."

It's boarding time! Akhirnya aku langsung nggaet tas cangklong butut bewarna coklat yang udah setengah tahun mengabdi kepadaku. Sebelum masuk pesawat, aku sempet deg-degan, gimana rupa pramugari Garuda nanti? Apa mereka udah pake uniform kebaya yang baru? Soalnya aku sempet baca di Garuda Magazine edisi November pas wawancaranya VP Cabin Services Mahfuz Satrianto beliau bilang: "Perubahan itu terjadi pada tata layanan serta penglihatan, pendengaran, penciuman dan rasa. Paling terlihat adalah seragam awak kabin. Para wanita yang tadinya menggunakan rok dan blouse kini memakai kebaya dengan bawahan batik.." Jujur pas waktu itu aku benar-benar nggak 'sreg' dengan uniform baru tersebut. Soalnya aku suka sama blouse-nya Garuda dan batiknya. Kembali ke fokus... setelah aku masuk ke pesawat, nampaklah seorang pramugari dengan blouse hijau, hmmph, untunglah... aku belum sport jantung (lebayy banget sih gue).

Akhirnya aku duduk manis di kursi xxF (lupa tapi aku selalu minta kursi F karena aku suka huruf F, pokoknya di kursi belakangnya jendela darurat). Dan ternyata pernyataan sang ground officer tadi kalau penumpang Garuda siang cuma sedikit bukan hanya isapan jempol. Pesawat cuma separuh terisi, padahal Garuda menggunakan Boeing 737-400 yang kapasitasnya masih lebih besar daripada Sriwijaya Boeing 737-300 (walaupun semuanya ekonomi). Sungguh aneh Garuda, mengangkut sedikit penumpang dengan pesawat yang cukup besar untuk ukuran 737 series (B734 adalah yang paling panjang di antara 737 Classic). Kembali ke topik...seorang pramugari membagikan permen dan video prosedur keselamatan di putar di TV. Yah standar lah, gimana sih isi kabin Garuda kalau jarak dekat. Tapi yang buat aku salut, walaupun pesawat cuma setengah terisi, tapi pelayanannya nggak berkurang sama sekali. Awak kabinnya masih utuh 5 orang (ya iyalah masa' mau ada satu yang ditinggal di Jakarta ntar di jemput lagi), terus TV-nya nyala seperti biasanya, pramugarinya juga ramah-ramah, dan pas turun pakai garbarata. Yang unik, seorang pramugari duduk di kursi di depanku. Mungkin buat jagain jendela darurat kali yaa, soalnya sederet kursinya kosong semua (kursi disebelahku juga ^_^).

Yah begitulah, aku -seperti biasanya- dapat tiket kelas promo 'B' dengan harga IDR 532.000 sekali jalan. FYI selama ini aku belum pernah naik kelas bisnis lho...jadi kalau ada yang pernah kasih tau aku yaa... Setiap kali aku minta naik kelas bisnis (sekalii aja deh pap, seumur hidupku yang 16 tahun ini nggak pernah ngerasain kelas bisnis) pasti ayahku akan dengan tegas menolak "Orang dekat kok naik kelas bisnis, buang-buang uang". Yah akhirnya aku hanya bisa rajin-rajin menabung mileage GFF ku agar bisa upgrade ke kelas bisnis (akhirnya walaupun sekarang cukup tapi eman-eman deh dipake ^_^').

Begitulah kisahku (ngebosenin n basbang banget ya), yah lumayan lah buat ngisi blog-ku yang benar-benar kosong bin melompong ini. Penerbangan ini dilaksanakan tanggal 04 Februari 2010.

Kamis, 01 Juli 2010

Cerita Kita di Asrama

-- Sebuah Kenangan di Asramaku --

Asrama tempat aku tinggal adalah sebuah ruangan berukuran 4 x 6 meter yang berisi 17 orang yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Fasilitasnya standar, ranjang tingkat berjumlah 9 buah, dispenser, kipas angin, lemari, gantungan baju di belakang pintu dan lain-lainnya. Intinya kamarku ini sederhana banget, jangan harapin isinya kayak hotel berbintang.

Kamarku heterogen, walaupun mayoritasnya adalah orang Jawa. Penghuninyapun lucu-lucu, seperti Lintang dari Klaten dengan logat Jawa yang kental, Meia dari Palembang (juga dengan logatnya tapi aku nggak tau apa namanya), Rossi si bintang kelas yang super cantik dari Ngawi, Qimmy si badut yang chubby dan kocak dari Cilacap, Zanidia sohib lengketku dari Salatiga, Manda dari Riau yang sering 'kupalakin' untuk nyimpenin tiket dan boarding pass-nya untukku, Ziza dari Makassar (ini juga suka kupalakin), Rian yang sekota denganku, pokoknya everything is amazing thing!! Susah buat dilupain.

Tapi semuanya berubah ketika ada kebijakan untuk me-mix asrama antar angkatan, jadi sekamar berisi murid dari kelas VII sampai XII kecuali kelas XI, soalnya mereka adalah OSIS penguasa sekolah.

"Besok kita akan mengadakan perpindahan asrama" kata pembina OSIS dengan suara menggelegar di aula, di hadapan ratusan murid (kalau aku sih nggak ikut, tapi nguping dari kamar, soalnya aula tersebut ada di hadapan kamarku -dasar bandel-)

"Haaaaaah?" jerit semua murid yang hadir (aku khan nggak ikutan jadi nggak ikut jerit)
Lalu semua langsung kasak-kusuk, berbisik-bisik, intinya bisik-bisik tapi ribut (gimana sih?)

Saat itu jam menunjukkan pukul 09.00pm.

"Besok jam tujuh pagi kalian harus sudah bersiap-siap keluar dari asarama masing-masing"

Semua langsung heboh kembali.

Dan itu adalah awal hari-hari gelapku yang membuatku ingin kembali lagi ke kamarku yang indah dengan warna birunya...

Trip Report CGK-SOC by GA 08 Feb 10

Hai semuanya...
Mengawali blog ini,aku akan membawakan trip report perjalananku dengan Garuda Indonesia menuju Solo.Aku berasal dari Jakarta namun bersekolah di Solo, jadi setiap liburan aku pergi bolak-balik Solo-Jakarta. Untuk informasi, di Bandara Internasional Adisoemarmo Solo tidak banyak pilihan maskapai yang dapat diambil, untuk tujuan Jakarta hanya ada Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, dan (baru saja dibuka) Batavia Air. Untuk destinasi Internasional hanya ada AirAsia tujuan Kuala Lumpur dan Silk Air yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia tujuan SingaporeAku membeli tiket penerbangan bolak-balik kelas promosi untuk penerbangan ini dengan harga IDR 951.000.

DI BANDARA
Aku datang ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 2F pukul 04.00 pagi diantar oleh ayahku soalnya nyari taksi pagi-pagi rada susah dari daerah tempat tinggalku. Tiba di bandara, tampak antrian di general check-in counter Garuda Indonesia sudah mengular. Walaupun begitu antrian tampak tertib dan rapi. Untung aja aku anggota GFF atau Garuda Indonesia Frequent Flyer yang mendapat counter check-in khusus, sehingga antrian nggak begitu panjang dibandingkan antrian di General Check-In Counter tadi.Setelah Check-in aku langsung masuk ke area boarding di gate F2. Waktu yang tersisa masih banyak banget karena ETD-nya jam 06.05, jadi aku mutusin buat shalat shubuh aja di musholla. Kalau menurutku musholla, toilet dan tempat wudhu di gate F2 itu bersih dan luas, jadi nyaman deh mau ibadah. Setelah shalat shubuh, aku nunggu sambil nge-chat via FB dan ngambil beberapa gambar.

BOARDING
Akhirnya saat boarding tiba. Aku mendapat tempat duduk dengan no 19F, jadi kalau menurut urutan prioritas boarding di Garuda Indonesia, aku mendapat urutan naik kedua setelah penumpang yang dapat seat di rear cabin. Ternyata kami boarding nggak pake garbarata, tapi naik bus dulu, terus masuk ke gate lain baru masuk ke pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800NG nomor registrasi PK-GEI dengan livery baru tapi penampilan cabin lama.
Mumpung kabin kelas bisnis masih kosong, aku foto deh...


Giliran kelas ekonomi yang kena jepret...

Nyari kursi, 19F akhirnya dapet!! Aku memang suka window seat, biar bisa jeprat-jepret. Setelah duduk, langsung moto tv yang ada di depanku...


Akhirnya pesawat take-off dan menjauh dari Soekarno-Hatta. Goodbye Jakarta, i'll miss you...
Saatnya serving meal, pagi-pagi laper nih ^_^


Minumnya teh hangat, khan pagi-pagi enaknya minum yang hangat-hangat biar semangat!!!
Negeri diatas awan...
Nge-fans deh sama nature's wings di wingtipnya Garuda yang beda dari Airlines lainnya...

Hampir tiba di Solo, cuaca menjadi mendung...


Akhirnya tiba juga di AdiSoemarmo International Airport. Welcome to Solo City of Batik...
Di koridor kedatangan Bandara AdiSoemarmo Solo...

Begitulah, akhirnya aku sampai juga di Solo dengan selamat dan langsung tancap gas ke sekolah tanpa mampir kemana-mana...

FLIGHT DETAIL
Operator : Garuda Indonesia
Flight No : GA 220
Route : CGK-SOC
Registration No : PK-GEI
Airfleet : Boeing 737-800NG
Duration : 58 min